suDahkah kaLian bersyukur hari ni?

12.16 Posted In Edit This 0 Comments »
Seorang petani sederhana, yang tinggal ditepi hutan memiliki seekor kuda putih yang gagah perkasa. Banyak orang ingin membelinya dengan harga mahal, namun si petani selalu menolak dengan alasan kudanya itu lebih dari sekedar peliharaan. Kuda itu sudah seperti sahabatnya. “Bagaimana mungkin saya menjual sahabat saya?” sanggah si petani. Tetangganya beranggapan si petani itu tak tahu diuntung dan bodoh, karena petani itu bisa hidup lebih layak dari hasil penjualan kuda. Pada suatu hari kuda itu lepas dan lari ke dalam hutan dan tidak pulang selama beberapa hari. Para tetangga semakin jengkel dan berkata, “Itulah kalau orang tak mau diuntung, akibatnya terkena sial dan kutuk!” Si petani dengan tenangnya menanggapi, “sudahlah jangan membuat penilaian. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok. Yang jelas sekarang kudaku tidak ada di kandang. Itu saja, jangan ditambahi.” Hari berikutnya, kuda itu pulang dan membawa sepuluh ekor kuda liar dari hutan. Para tetangga pun berkerumun, lalu berkomentar kepada petani itu, “Anda benar. Ini sungguh keberuntungan bagi anda yang patut disyukuri! Kuda-kuda itu bisa anda jual dan hidup anda akan menjadi lebih enak!”. Namun, petani itu dengan tersenyum menimpali, “Sudahlah. Kalian memang suka membuat penilaian. Yang pasti kudaku sudah pulang membawa sepuluh teman, jangan dilebih-lebihkan.”

Pada suatu hari satu-satunya putra si petani mengalami kecelakaan ketika sedang melatih menjinakkan kuda-kuda liar itu. Kakinya patah dan tubuhnya babak belur, sehingga tidak bisa bergerak dan hanya terlentang di tempat tidur. Para tetangga mulai bergunjing, “Nah, rupanya kuda-kuda itu membawa celaka. Harusnya, kuda-kuda liar itu dijual saja. Dasar tidak tahu diuntung. Itulah akibatnya!” Si petani sudah bosan meladeni ocehan orang-orang yang gampang membuat penilaian. Hari-hari berikutnya, negara diserang musuh sampai hampir kalah. Untuk mempertahankan negara, semua pemuda diwajibkan ikut dinas militer maju ke medan perang. Seluruh kampung bersedih karena kehilangan anak-anaknya, hanya putra si petani yang tidak ikut berperang karena sakit!
Bersyukur berarti menerima hidup sebagaiman adanya. Berhentilah membandingkan dengan keadaan orang lain atau mengukur dengan impian dan harapan. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok, memandang segala hal dengan netral dan tanpa penilaian adalah langkah awal untuk menumbuhkan rasa syukur. Relasi sering digerogoti oleh suami atau istri yang berkeluh kesah atau istri yang terus berkeluh kesah atau meributkan perkara-perkara kecil. Selalu menuntut kesempurnaan juga menghalangi tumbuhnya tunas syukur.
Akibatnya, tak ada rasa syukur berarti tak ada suka cita. Ego tak akan pernah terpuaskan. Jika anda berpikir bahwa anda akan bersyukur jika sudah punya mobil baru, ketika sudah punya mobil baru, ego anda akan berkata. ” Nanti, jika aku punya rumah baru, barulah aku bersyukur!” Begitu seterusnya. Keinginan ego tak akan ada habisnya. Bersyukurlah sekarang juga atas apa yang sedang anda alami dan miliki. Ada juga suami atau istri yang berpikir, “Seandainya dulu aku kawin sama si A….atau “Alangkah malangnya aku kawin sama dia, dan berbagai bentuk pengingkaran terhadap realitas yang membuat hidup ini seperti beban atau kekeliruan. Belajarlah untuk selalu bersyukur, dengan bersyukur kita akan menjadi manusia yang terkaya dan tidak kekurangan apapun. Dengan demikian kita menjadi murah hati dan mudah mengulurkan tangan kepada sesama yang membutuhkan. Sebaliknya, orang yang tidak bersyukur akan menjadi manusia termiskin, karena akan selalu merasa kurang, kurang dan kurang.

0 comments:

Posting Komentar